Warga Bengkulu Mendapat Penghargaan "People Of The Year",Siapakah Dia??

Posted by Hamwa

Penghargaan "people of the year" menandai parahnya hukum di Indonesia
E Mei Amelia R - detikNews
Jakarta - Di penghujung tahun 2009, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) memberikan penghargaan 'People of The Year' kepada sejumlah tokoh dan masyarakat yang menjadi simbol ketidakadilan hukum. Penghargaan diberikan kepada 11 orang tokoh dan masyarakat yang terkemuka.

"Kita ingin berikan penghargaan ini kepada orang-orang yang menjadi simbol ketidakadilan, simbol perlawanan rakyat," kata Koordinator Kontras, Usman Hamid dalam sambutannya di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (28/12/2009).

Usman menilai, tahun 2009 ini adalah tahun pragmatisme politik di mana banyak persoalan menumpuk di tahun tersebut. Seperti persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan lumpur Lapindo. Usman juga melihat, di tahun 2009 ini sebagai tahun kemerosotan komitmen Hak Azasi Manusia (HAM).

Atas berbagai permasalahan tersebut, Kompak menganugerahkan penghargaan kepada orang-orang yang tertindas dengan penegakan hukum yang dinilai tidak adil. Berikut adalah kesebelas nama tersebut.


1. Agus Suwandi Tanjung. Agus adalah penyewa unit di Apartemen Mediterania, Jakarta Barat. Agus dipenjara 87 hari karena tertangkap mengecas handphonenya di apartemen tersebut.
2. Koh Seng-Seng. Koh Seng-seng harus berhadapan dengan aparat penegak hukum karena menulis surat pembaca mengenai properti di ITC Mangga Dua, Jakarta Barat.
3. Suciwati. Istri aktivis HAM, Munir diberi penghargaan atas kegigihannya mencari keadilan atas terbunuhnya Munir.
4. Nenek Minah. Sosok yang populer akhir-akhir ini karena harus berurusan dengan penegak hukum. Nenek Minah menjalani hukuman percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri 3 biji kakao.
5. Korban lumpur Lapindo. Pemberian penghargaan diwakilkan kepada putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo.
6. Komarudin Hidayat. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) ini diberi penghargaan atas upayanya membebaskan pimpinan KPK, Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah dalam Tim 8.
7. Misbakum. Dia adalah inisiator Pansus Century.
8. Usman Yasin. Warga Bengkulu yang diberi penghargaan karena telah membangun gerakan melawan ketidakadilan atas kasus Bibit-Chandra dalam 'Gerakan 1 Juta Facebookers pendukung Bibit-Chandra'.

Dalam acara tersebut, hadir pakar komunikasi politik Effendi Gazali dan aktifis Kompak, Fadjroel Rahman. Acara dimeriahkan dengan pementasan seni seperti Melani Subono, Iwan Fals, Sujiwo Tejo dan Butet Kertarajasa.

Hukum di Indonesia ini memang sudah mulai bergerak ke urusan perut semua ya???
profit oriented, kalo gitu bik perusahaan aja PT sekalian..,
ngga cuma pengacara yang disewa sama klien, jaksa penuntut umum, penuntut khusus kalo ada juga dibayarin kayanya, temasuk makim ketua bserta susunan sekretaris, bendahara dan seksi2nya juga bisa di kasi uang rokok (kalo dibeliin rokok beneran satu tronton kali)..,

Indonesia....., Indonesia...,
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3021806

Tau Ngak Pemain Asli Indonesia Yang Bermain di Liga Italia,Ini Dia!!!

Posted by Hamwa



Di Indonesia, jutaan publik sepakbola memimpikan munculnya pemain berbakat yang mampu berlaga di klub-klub Eropa. Jauh di Italia, di luar keriuhan kompetisi Serie A, seorang putra berdarah Indonesia sedang meniti karir bersama Piacenza - klub Serie B Italia.


Radja Nainggolan, begitu nama pemain itu. Dari namanya, jelas dia seorang putra Indonesia dari etnis Batak. Namun dalam situs resmi Piacenza tertera, Radja Nainggolan lahir di Antwerpen, Belgia, dan berkewarga-negaraan negeri tempat dia dilahirkan.

Radja lahir 4 Mei 1988. Ayahnya asli Indonesia, dan ibu berkebangsaan Belgia. Ia memulai karir sejak musim 2005/2006. Pada musim pertamanya Radja hanya tampil sekali, begitu pula pada musim kedua.

Karirnya mulai menanjak pada musim 2007/08, dengan tampil sepuluh kali mengenakan kostum Piacenza. Kini, hingga 21 November pada musim 2008/09, Radja belum pernah absen sekalipun. Dari 15 kali tampil, ia berhasil melesatkan satu buah gol di kandang Treviso, tepatnya pada 25 Oktober silam.

Pelatih Stefano Pioli menjadikannya starter di posisi gelandang dalam beberapa pertandingan. Di posisi strategis ini, Radja kerap bermain dengan Marco Calderoni, Alessio Stamilla, Pietro Visconti, ketiganya adalah pemain dari akademi sepakbola Piacenza.

Radja Nainggolan tampaknya akan menjadi harapan publik sepakbola Indonesia yang bermimpi melihat anak negerinya bermain di kompetisi elit Eropa.

Namun, apakah Radja Nainggolan juga punya harapan menjadi bagian tim nasional Indonesia? Siap-siap kecewa.

GOAL.com Indonesia dibantu oleh Daniele Perticari dan Sergio Stanco dari GOAL.com Italia sehingga wawancara ini berjalan lancar. Berikut ini kutipan wawancara GOAL.com dengan Radja Nainggolan melalui telefon.

GOAL.com: Bagaimana pengalaman Anda bermain untuk Piacenza?

RADJA NAINGGOLAN: Menarik sekali bermain di sini. Ini musim yang keempat buat saya, dan ketiga di skuad utama. Saya sangat senang dan saya yakin saya bisa bermain lebih baik di masa mendatang.

GOAL.com: Bagaimana Anda bisa menembus skuad Piacenza? Coba ceritakan sedikit perjalanan Anda ke liga Italia.

RADJA: Agen saya asal Swiss, Alessandro Beltrami - agen yang berperan mendatangkan Valon Behrami ke Lazio dan kemudian West Ham United - suatu hari datang ke Belgia untuk mencari pemain-pemain berbakat. Awalnya, saya tidak tahu siapa dia, tapi saat itu saya bermain untuk GBA [singkatan dari KFC Germinal Beerschot Antwerpen, klub Liga Juplier Belgia]. Dia sangat terkesan dengan penampilan saya dan bertanya apakah dia bisa diresmikan sebagai agen saya. Kemudian, saya tiba di Italia tapi semuanya jadi sulit. Sepakbola Italia jauh lebih tangguh dibanding sepakbola Belgia. Jadi saya harus bekerja lebih keras ketika latihan, dan memaksa diri beradaptasi dalam dunia baru ini.

GOAL.com: Siapa tim atau pemain lawan paling tangguh yang pernah dihadapi Anda?

RADJA: Tidak hanya satu. Banyak sekali lawan yang kuat di Italia. Sulit bagi saya untuk menyebut nama-namanya.

GOAL.com: Anda campuran Indonesia-Belgia. Tim nasional mana pilihan Anda?

RADJA: Belgia. Saya belum pernah ke Indonesia. Ayah saya orang Indonesia dan dalam waktu dekat ini saya akan ke sana untuk bertemu dengan ayah - untuk pertama kalinya di negerinya sendiri. Ia lebih sering ke sini dan ke lapangan langsung untuk melihat saya bertanding, tapi saya sendiri belum pernah ke Indonesia bersama ayah.

GOAL.com: Jika Anda gagal menembus skuad Belgia, apakah Anda bersedia membela tim nasional Indonesia, jika tawaran itu diajukan oleh PSSI?

RADJA: Saya tidak tahu. Hal ini sangat sulit karena saya masih muda dan sudah mengenakan kostum tim U-21 Belgia. Saya masih bisa memilih hingga tim senior memanggil. Saya pikir Indonesia berpeluang membangun tim yang lebih solid jika memanggil pemain-pemain Eredivisie yang tidak memperkuat timnas Belanda [seperti Irfan Bachdim]. Saya pernah ditanya sekali, dalam sebuah wawancara, apakah berminat membela timnas Indonesia. Itu saja.

GOAL.com: Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia, sebagai negara maupun sepakbolanya?

RADJA: Pengetahuan saya terhadap Indonesia sangat sedikit, karena saya belum pernah ke sana, dan saya hanya tahu sedikit mengenai makanan Indonesia.

GOAL.com: Apakah Anda pernah berbicara dalam bahasa Indonesia?

RADJA: Tentunya tidak!

GOAL.com: Bagaimana gaya permainan Anda?

RADJA: Konsentrasi penuh dengan menikmati gaya permainan yang saya terapkan. Di Belgia, saya merasa senang bersama rekan-rekan di GBA karena kami teman-teman baik. Di Italia, tekanan lebih tinggi dan lingkungannya beda, sehingga gaya permainan juga berbeda. Saya tipe orang yang ingin bercanda dan merasa senang sebelum kick-off. Dengan kondisi seperti itu, saya akan fokus untuk meraih kemenangan dan mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

GOAL.com: Siapa saja pemain favorit Anda?

RADJA: Ronaldinho. Ia pemain yang kuat dan murah senyum. Ia selalu dalam keadaan senang, dan bagi saya itulah cara terbaik untuk menghadapi permainan hebat seperti sepakbola. Impian saya? Saya ingin bermain di Serie A. Semoga keinginan saya tercapai...!

sumber: http://www.goal.com/en-us/news/1643/...dulu-indonesia